BATU – Dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN MAs) Malang Kelompok 91 menyelenggarakan sosialisasi edukatif bertajuk Anti-Bullying di SMAN 3 Batu pada Senin (24/8/2026) pagi. Kegiatan yang diikuti secara antusias oleh ratusan siswa-siswi kelas 10 dan 11 ini dibuka secara resmi oleh perwakilan mahasiswa KKN MAs Kelompok 91.
Kegiatan edukasi ini diinisiasi sebagai bentuk perhatian terhadap tingginya prevalensi kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Mengutip data UNESCO (2020), lebih dari 30% remaja di dunia pernah menjadi korban bullying, di mana Indonesia mencatatkan angka yang cukup memprihatinkan, yakni sekitar 40% remaja berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan. Tren ini diperkuat oleh data pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI, 2025) yang mencatat lonjakan kasus kekerasan dari 91 kasus pada tahun 2020 menjadi 285 kasus pada 2023. Menariknya, mayoritas kasus kekerasan tersebut justru terjadi di dalam satuan pendidikan formal (57%) dan berlokasi di area sekolah (48%).
Melalui pemaparan materi, mahasiswa KKN MAs 91 menjelaskan secara komprehensif mengenai definisi bullying, yakni tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang terhadap pihak yang lebih lemah akibat adanya ketidakseimbangan kekuasaan. Selain itu, para siswa dikenalkan pada lima jenis perundungan, mulai dari perundungan verbal, fisik, relasional, seksual, hingga perundungan siber (cyberbullying). Tim KKN juga membedah peran-peran di sekitar konflik perundungan, seperti pelaku, pembantu pelaku, pemberi dukungan, pembela, hingga penonton pasif (passive bystander).
Tak hanya itu, faktor pemicu perundungan turut diulas secara mendalam, meliputi temperamen anak, tingkat kecerdasan emosional, kondisi kesehatan mental, serta pola asuh keluarga dan budaya lingkungan sekolah. Pola asuh yang keras, tidak konsisten, maupun kurangnya kasih sayang terbukti meningkatkan risiko perilaku agresif pada anak. Dampak negatifnya pun tak main-main: bagi korban, bullying memicu depresi, penurunan prestasi, hingga isolasi sosial, sementara bagi pelaku berisiko terseret ke dalam tindakan kriminal dan penyalahgunaan zat di masa depan.
Sebagai solusi konkret, tim KKN MAs Kelompok 91 memberikan arahan dan langkah praktis bagi para siswa. Apabila menjadi korban, siswa diimbau untuk tidak bersikap diam atau membalas dengan kekerasan, melainkan berani bersikap tegas, mengumpulkan bukti, dan segera melaporkan kejadian kepada pihak tepercaya atau konselor. Sedangkan bagi siswa yang menjadi saksi, mereka didorong untuk tidak menjadi penonton pasif, tidak menyebarkan rekaman kekerasan di media sosial, dan melapor ke pihak sekolah demi menghentikan rantai perundungan.
Melalui sinergi edukatif ini, sosialisasi yang berlangsung interaktif hingga siang hari tersebut diharapkan mampu mengikis potensi perundungan dan membentuk budaya sekolah di SMAN 3 Batu yang penuh empati serta saling menghargai.
Divisi Humas KKN MAs Desa Sumbergondo Kelompok 91
Sinergi Edukatif: Sosialisasi Anti-Bullying Mahasiswa KKN MAs 91 Dorong Lingkungan Sekolah Inklusif di SMAN 3 Batu





